Posted by: dianrahma | 14 Nopember 2010

CONTOH SOAL UAN

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

BHS INGGRIS

Last week I took my five-year old son. Willy, to a musical instrument store in my hometown. I wanted to buy him a set of junior drum because his drum advised me to buy him one. Willy likes listening to msic very much. He also likes asking me everithing he wants to know. Even his questions sometimes seem precocious for a boy of his age. He is very inquisitive.

We went there by car. On the way, we saw a policeman standing neara traffic light regulating the passing cars and other vehicles. He blew his whistle now and then.

Seeing the policeman blowing his whistle. Willy asked me at once.”Dad, why is the policeman using a whistle, not a drum?”

Hearing his unexpected question I answered reluctantly,”Because he is not Phil Collins!”

  1. what does the text talk about?

    a. willy and his new drum

    b. phil collins and his drum

    c. a policeman and his whistle

    d. willy’s drum private teacher

    e. the writer’s five-year old son

  2. from the text above we know that willy is a/an …..boy.

    a.smart

    b.funny

    c.stupid

    d.childish

    e.annoying

  3. which sentence makes the text a funny story?

    a.he is very inquisitive

    b.”because he is not phil collins”

    c.he blew his whistle now and then

    d.he also likes asking me everithing he wants to know

e.“dad, why is the policeman using a whistle not a drum?”

BIOLOGI

1.kelompok tumbuhan yang menunjukkan variasi individu dalam satu spesies terdapat pada……

    a.jambu,mangga,nanas

    b.kelapa,tomat,pinang

    c.terung,tomat.kentang

    d.mangga gadung,mangga manalagi,mangga golek

    e.jahe merah,lengkuas merah,kunyit putih

2.beberapa cara penulisan ilmiah:

    1.terdiri dari dua kata bahasa latin atau yang dilatinkan

    2.kata pertama dimulai dengan huruf besar. Kata kedua dimulai huruf kecil

    3.penulisan kata pertama dengan kedua disambung

    4.penulisan kata pertama dengan kedua tidak disambung

    5.ditulis dengan cetak miring atau digaris bawahi secara terputus

    6.nama penemunya tidak boleh dicantumkan

cara penulisan binomial nomenklatur yang benar adalah…….

a.1-2-3-5

b.1-2-3-6

c.1-2-4-5

d.2-3-5-6

e.2-4-5-6

3.berikut ini ciri-ciri organisme:

-bersel satu atau banyak

-inti bersifat eukariotik

-tidak berklorofil

-memiliki hifa

-reproduksi dengan spora

organisme yang memiliki ciri-ciri tsb tergolong……..

a.paku

b.jamur

c.lumut

d.ganggang

e.bakteri

Posted by: dianrahma | 14 Nopember 2010

my cerpen

A love to kill

Sore yang indah dan permai,diselimuti langit yang jingga. Semilir angin sepoi-sepoi membuat suasana damai yang menghanyutkan. Ditaman yang banyak berdiri indah bunga yang bermekaran, terdengar suara ceria anak-anak bermain kejar-kejaran.

Ayo kesini,cepat kejar aku..ayo cepat!”

terlihat seorang anak yang berusaha untuk menangkap anak yang lain.

Ayo kak Jeri cepat kejar aku masa cowok kalah sama cewek?”

Aku pasti gak kalah sama kamu Dira, awas ya..kamu pasti aku tangkap”.

Kebahagiaan terpancar dimata kedua bocah itu.

Dira Jeri ayo makan kuenya dulu mama sudah buatkan kue kesukaan kalian!” “Iya ma, sebentar lagi”.

Saat mereka menikmati kue bikinan mama, tiba-tiba terdengar suara mobil berderu kearah garasi. Keluarlah bocah kecil bersama kedua ortunya.

Wah jeng silahkan masuk,saya panggilkan suami saya dulu”.

Tak lama, mama Dira kembali bersama papa Dira, dengan raut muka bahagia mereka menemui tamunya.

Dira, ini Rangga anak tante Dewi, ajak main ketaman ya!sama kak Jeri juga”.”Iya ma”. Mereka bertiga asik bermainhingga perbincangan antara kedua keluarga usai.”Rangga ayo pulang!besok kamu boleh main lagi kesini bersama Dira dan Jeri”. Mulai saat itu Dira, Jeri dan Rangga sering bermain bersama,jeri tak segan meminjamkan mainan mainan barunya pada Rangga. Persahabatan mereka terjalin dengan baik. Mereka bertiga berjanji akan menjadi sahabat yang baik dan saling menjaga. Namun kebahagiaan mereka berkurang saat mereka harus berpisah karena Rangga harus pergi bersama kedua ortunya keluar kota karena tugas yang harus diselesaikan untuk waktu yang lama. Dira yang sangat menyayanagi temannya itu tak sanggup membendung kesedihan yang timbul dihatinya. Air matanya bergulir butir demi butir bagaikan embun pagi yang menetes dari dedaunan. Mama Dira memahami apa yang dirasakan oleh Dira karena kehilangan sahabatnya. Mama Dira mencoba menghibur dan menghilangkan kesedihan dihati Dira.

Waktu demi waktu berlalu,telah 2 tahun mereka tidak bertemu. Dalam suatu waktu, Rangga mengunjungi rumah Dira pada saat ulang tahun Dira . Dira sangat terkejut atas kehadiran Rangga yang secara tiba-tiba dan pada saat Dira berbahagia. Dia merasa ulang tahunnya sangatlah lengkap dan sempurna. Rangga kembali kekota malang hanya untuk beberapa waktu saja,tujuan utamanya adalah untuk mengunjungi Dira. Pada hari terakhir kunjungannya keMalang, mereka bertiga menyempatkan diri untuk menikmati tempat favorit mereka. Tempat yang sangat indah dan didekat tempat itu terdapat jurang yang tidak begitu dalam. Seperti dulu mereka kembali bermain kejar-kejaran,saat Rangga berada ditepi jurang,Dira mencoba menangkap tapi Rangga menghindar dan Dira terperosok kedalam jurang, Rangga mencoba menangkap tangan Dira,tapi Rangga tak bisa menggapainya. Jeri dan Rangga panik, Rangga berlari kerumah Dira untuk mencari bantuan.”Tante.. Dira terperosok kedalam jurang,ayo tante cepat kesana”.”Iya iya tante panggil om dulu”. Rangga papa dan mama Dira berlari menuju ketempat dimana mereka bermain dulu. Papa Dira mencoba masuk dan mengangkat tubuh Dira yang pingsan. Kaki Dira berlumuran darah. Papa Dira segera melarikan Dira kerumah sakit.

”Dira, mengapa melamun saja,ayo makan siang dulu”. Dira mengambil tongkatnya dan berjalan keruang makan. “bagaimana tesmu tadi?apakah kamu yakin diterima kuliah disana?” “Dira yakin kuliah disana masa Dira kalah sama kak Jeri”. “Tapi tempatnya jauh, mama gak tega harus melepas kamu untuk ngekos didekat kampus”. “Ya gak usah ngekos aja ma,kan bias antar jemput sopir”. “Ya itu dipikir nanti,sekarang habiskan dulu makannya”.

Sore ini Dira kembali termenung,khayalannya terbang bersama dedaunan yang mengikuti semilir angin yang berhembus pelan. Suasana yang begitu tentram dan sunyi membuat gadis itu merasa kesepian dan kembali mengenang masa lalunya bersama sahabat kecilnya, Rangga .

Kring…kring…”, meja sebelah Dira bergetar seirama dengan getar jam beker yang setia membangunkannya dari tidur lelapnya. Mata Dira yang indah perlahan membuka dan memancarkan sinar yang jernih. Pagi itu Dira disambut oleh kicau burung yang serta merta mengiringi pagi yang begitu cerah dan bersemangat. Tanpa buang waktu lagi Dira masuk kekamar mandi dan menyiramkan air yang begitu sejuk ketubuhnya. Selang beberapa waktu terdengar sendok dan piring beradu diruang makan. “Ma..pa..Dira berangkat dulu ya”. “Hati-hati dijalan”. Diperjalanan,mobil Dira menyerempet seorang cowok yang berjalan bersama ceweknya. Cowok itu tak bisa mempertahankan keseimbangan dan jatuh ketrotoar. Dira langsung turun dan menghampiri untuk melihat keadaan cowok itu. “Sorry,aku gak sengaja”. “Lo itu gimana sih main nabrak sembarangan,nyetir itu yang bener”,omel cewek itu. “Ya ya sori,tapi kamu gak apa apa kan?” “Gak apa apa kok”. “Gak apa apa gimana?jelas-jelas kamu yang nabrak dia dan dia jatuh”. “Dia aja gak marah,kok kamu yang sewot”. “Sudah-sudah gak usah bertengkar, aku gak apa-apa”. Dira menolongnya berdiri, tak sengaja matanya melihat kalung liontin yang berbentuk setengah bintah yang tergantung dileher cowok itu. Dia langsung teringat akan sahabat kecilnya. “Dira, lusa aku akan ikut mama dan papaku pindah ke Korea dan aku akan melanjutkan pendidikanku disana, selain itu alasanku kesana juga karena perusahaan perusahaan papa mendapatkan dukungan investor dari sana”. “Apa kamu akan menetap disana?” “Mungkin aku akan kembali kesini tapi aku tidak dapat memastikan kapan itu terjadi, sebagai tanda persahabatan kita,aku ingin memberikan kalung ini untukmu dan yang satunya lagi untukku,aku berharap kamu akan selalu memakainya”. Sejenak Dira kembali kemasa lalunya,saat dia tersadar cowok yang dia tabrak sudah pergi dari situ. Dira mengayunkan kakinya dan tongkatnya mengetuk-ngetuk aspal jalanan,dia kembali kemobil.

Dikampus terdengar jerit bahagia dari calon mahasiswa, ternyata pada hari itu terpampang pengumuman siapa saja calon mahasiswa yang lolos dalam tes. Dira segera mendekat dan menelusuri lembaran pengumuman yang tertempel dimading. Dadanya berdegup kencang, darahnya serasa mengalir lebih cepat dari biasanya (sebenernya gak tau, soalnya gak ngecek tekanan darah). Tak lama matanya menyorot ke sebuah nama, Dira Putri Revana. Dengan teliti ditarik pandangannya kebaris selanjutnya, terpampang besar huruf LULUS. Dengan mata berbinar, dilangkahkan kakinya menuju jajaran mobil disamping kampus. Dengan semangat dimasukannya gigi mobil,mobil menderu meninggalkan tempat bangunan kokoh nan megah itu berdiri. Dengan sangat berhasrat segera sampai dirumah dipermainkannya setir mobil yang bundar itu. Namun perhatiannya tak terpusat pada jalanan yang tengah ramai itu. Untuk kedua kalinya,dia menyerempet cowok yang sama. Kali ini cowok itu mengendarai motor. Dira cepat-cepat keluar dari mobil dan menghampiri. “Lo..kamu lagi?” “Kamu itu kenapa sih,tadi pagi kamu sudah nabrak aku,sekarang kamu lagi”. “Sorry sorry aku gak sengaja,soalnya hari ini aku seneng banget karena aku diterima diuniversitas UM”. “Emang ada hubungannya sama aku?” “Kamu galak amat sih, Amat aja gak galak sama aku”. “Biarin aja, aku lagi buru-buru”. Cowok gak jelas asal-usulnya itu pergi dan membuat Dira kembali merenungkan kalung berliontin separuh bintang itu. “Gimana Dira, hasilnya? Mama sudah tidak sabar lagi menunggu berita dari Dira”. “Ma aku lolos masuk UM aku seneng banget ma”. “Bagus deh kalo begitu, ternyata kamu gak kalah pinter sama kakakmu”. “Iya dong ma, masa Dira Dira sama kak Jeri ogah deh”. Yang dibicaRanggan ikut nyengar-nyengir didepan tv. “Dah kak Jeri”. Dira kekamar dulu”. Suara tongkat Dira terdengar semakin lirih hingga hilang sama sekali.

Dalam kamar Dira mengotak-atik laptopnya dan membuka situs facebook. Muncul ide untuk mencari Rangga. Dira login kefacebooknya dan dikotak pencarian ditulisnya Rangga Arditama Putra. Tak menunggu lama identitas itu ditemukan. Segera diutaRanggan maksudnya untuk meng add seorang sahabat lama. Dira bahagia dan puas karena bisa menemukan alamat dari sahabat lamanya itu. Jam pun berdentang menunjukkan pukul 4 sore, Dira tertidur didepan laptopnya yang masih menyala. Saat dilihatnya kembali layar laptopnya, ternyata Rangga sedang online. Hati Dira berbunga-bunga tak terasa jemari lentiknya mengetik pesan singkat yang segera dienternya menuju Rangga yang ol diseberang sana. Sekitar 120 detik kemudian datanglah pesan balasan dari Rangga beserta animasi lucu. “Sorry, ini Dira siapa ya? apakah Dira Putri Revana?” “Reka apakah kamu sudah tidak ingat lagi padaku?memang benar aku ini cacat dan orang seperti aku tidaklah mungkin tetap kau simpan dalam hatimu”. “Maaf Dira, selama ini aku tetaplah memikirkanmu,kita hanya dipisahkan oleh jarak dan waktu tapi pertemanan kita akan selamanya ada”. “Maafkan aku, kecacatanmu adalah ulahku dan aku ingin menebus semua kesalahanku. Katakan apa yang kau inginkan dariku, aku akan berusaha mewujudkannya”. “Selama ini aku telah merelakan apa yang telah kau perbuat kepadaku, semua yang kau lakukan aku anggap sebagai kenakalan masa kecil yang hanya sementara, yang aku pikirkan saat itu hanyalah kekuatan persahabatan yang terus kau pancarkan untukku, namun setelah sekian lama kau telah mengecewakan aku dengan hilangnya kabar darimu. Serasa hidupku sudah tak berarti karena pengkhianatanmu atas persahabatan kita. Bahkan Kak jeri tak bisa membuatku kembali bersemangat dalam hidup setelah kepergianmu”. “Bukan maksudku untuk memutuskan persahabatan kita tapi ada suatu hal yang memaksaku untuk melakukan hal itu”. “Apakah hal itu? kumohon ungkapkan yang sejujurnya padaku”. “Tidak, aku tak mau kau mengetahui hal ini. Biarkan ini menjadi rahasiaku,yang penting sekarang kita telah kembali seperti dulu”. “Baiklah aku tidak akan mengusik hal itu lagi, tapi kamu harus berjanji tidak mengulangi hal itu lagi” “Aku berjanji dan untuk membuktikan janjiku lebih baik kamu catat no.hpku ini 085233123456 maaf aku tidak bisa meneruskan,aku sekarang harus pergi, lain kali kita sambung kembali”. Dihati Dira, dia belum merasa puas atas obrolan singkat ini. Antara mereka memang sudah terjalin persahabatan yang tak mungkin tergantikan. Namun dihati Dira, ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ada yang sulit dilupakan dan selalu membuatnya teringat akan sosok Rangga. Selama ini ingin hatinya mengungkapkan ganjalan itu, namun disisi lain dia tidaik mau menghancurkan persahabatan yang telah dibinanya sejak kecil hingga bertahun-tahun. Dia selalu ingat akan perkataan”pasti ada mantan pacar namu tidak akan pernah ada mantan sahabat”. Difacebook Rangga tetaplah Rangga yang dulu,tapi dikenyataan Dira tak pernah tau Rangga yang sekarang.

Setelah pengumuman itu,digelarlah OSPEK seminggu kemudian. Dira tidaklah kesulitan untuk mendapatkan teman yang baru karena dia adalah anak yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja asalkan memberikan pengaru yang positif. Dan satu kelebihan dari diri Dira, walaupun dia tidak sempurna tapi dia tidak pernah merasa rendah diri. Hari pertama, para senior menyuruh calon mahasiswa untuk berdandan yang aneh-aneh, lari keliling lapangandan melakukan hal-hal yang aneh yang bisa membuat tertawa orang yang melihatnya. Saat lari keliling lapangan, Dira tak dapat mengikuti karena kaki kirinya tak dapat berfungsi dengan normal, dia hanya duduk dibawah pohon sambil mengamati teman-temannya yang bermandikan keringat berlari keliling lapangan yang lebarnya seperenam dari lapangan sepak bola itu. Dia merasa ada yang mengamatinya dari jauh, dia menoleh kearah seseorang itu, ternyata dia adalah cowok yang telah dua kali ditabrak oleh Dira. Dira merasa tidak nyaman dengan tatapan mata cowok itu. Namun sorot matanya mengandung sesuatu yang penuh arti. Dibalasnya tatapan mata cowok itudengan pandangan penuh tanda tanya. Dira merasa tidak asing lagi dengan tatapan mata seperti itu. Lama mereka larut dalam pikiran masing-masing. “Dira, hayo nglamun aja ntar kesambet tahu rasa kamu. Eh kok mandangin cowok itu,naksir ya?kata kakak-kakak senior,dia adalah cowok terkeren dan tertampan dikampus ini,kalau sampai kamu bisa kenalan dan jalan sama dia,kamu beruntung banget deh”. Dira hanya tersenyum mendengar ocehan teman barunya itu. Mereka berdua seperti teman yang sudah lama bersama. Hari kedua OSPEK mungkin tak mengasyikkan dan terkesan biasa saja bagi Dira, setelah mengikutinya langsung pulang,namun saat dia melihat mobilnya yang terparkir ternyata bannya kempes. Dira bingung, karena temannya sudah pulang. Tiba-tiba cowok yang mengamatinya kemarin datang menghampiri. “Ada apa?” “Ini kak,ban mobil ku kempes”. “Aku lihat dulu”. Tangannya mengotak-atik ban. Dia minta peralatan untuk membongkar ban,dan mengambil cadangan ban yang ada di jok belakang. Tak butuh waktu lama,mobil pun siap untuk digunakan. “Terima kasih ya kak,namaku Dira”. Dira mengulurkan tanganya untuk bersalaman dengan cowok itu. Saat Dira menyebutkan namanya,cowok itu langsung kaget dan mengulang nama Dira. “Dira? Dira Putri Revana?” “Lo kok kakak tahu nama panjangku?kakak siapa?” “Aku Rangga”. “ Rangga Aditama Putra?” “Ya, aku teman kecilmu yang sudah lama pergi dan sekarang kita dipertemukan oleh waktu”. Tak terasa air mata Dira menetes, dia tak sanggup lagi berkata-kata, dipeluknya sahabat kecil yang selama ini sangat dia rindukan. Kehangatan pelukan Rangga, menyiratkan kehangatan persahabatan yang telah lama hilang dari kehidupan Dira. Hatinya yang gersang selama ini kembali segar bagaikan tersiram air hujan. Sinar-sinar kebahagiaan mulai memancar kembali dikehidupan Dira. “Tapi kamu jahat sekali, sekian lama aku menanti kabar darimu,apa yang kudapat?hanya angin yang berhembus ketelingaku”. “Maafkan aku Dira, aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu”. “Lalu untuk apa semua ini kau lakukan? apakah kamu sudah tidak sudi untuk bersahabat dengan orang cacat sepertiku?” “Bukan, bukan itu yang kumaksud, fikiranmu tentangku itu salah. Aku hanya ingin kau tidak meratapi kepergianku. Aku tidak ingin kau beranggapan bahwa aku pergi untuk menjauhi dirimu, aku tidak ingin kau menganggapku sebagai pengkhianat”. “Baiklah, alasanmu bisa aku terima, tapi setidaknya untuk satu kali dalam sebulan atau satu kali dalam seminggu kamu bisa menelfon atau sekedar sms untuk saling menanyakan kabar, tapi apa?no.mu saja gak aktif atau memang kau sengaja matikan dan ganti nomor. Lalu bagaimana caranya aku untuk menanyakan kabarmu?sepertinya kamu memang sengaja ingin memutuskan hubungan kita”. Rangga tidak mampu berkata-kata lagi,dia hanya tertunduk diam tanpa dapat menatap mata Dira yang mulai berkaca-kaca. Dira kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh Rangga. Dira tidak ingin melanjutkan percakapan itu. Dia segera masuk mobil dan menekan gas. Rangga berusaha mengejar namun semuanya sia-sia. “Rangga, apakah kamu tidak menyadari bahwa aku seperti ini karena aku memiliki tanggapan lain atas semua perhatian dan kasih sayang yang kau berikan padaku,dan rasa itu bukan sekedar sayang antara 2 sahabat”. Dira memainkan setir mobil seiring permainan satu rasa dihatinya.

Rangga merasa galau atas kesalah pahaman atas diri Dira. Rangga memikirkan cara yang paling ampuh untuk menjelaskan salah paham itu,namun hingga larut malam belum juga dia temukan. Dikamarnya,dia terus merenung dan merenung. Mamanya mengetahui hal itu dan menengok ke kamar Rangga. “Rangga, ini sudah malam, kenapa kamu belum juga tidur?apa ada masalah?” “Bukan masalah yang besar kok ma,sebentar lagi Rangga tidur”. “Kamu pasti capek kan.sebaiknya kamu cepat tidur,besok harus kuliah lagi”. “Iya ma”. Mama Rangga pun keluar kamar dan menutup pintu kamar Rangga dengan pelan. Rangga masih saja memutar otak mencari cara agar Dira mau memaafkan Rangga. Hal-hal yang menyenangkan terlintas difikiran Rangga, namun belum ada yang cocok. Setelah merenung dan terus merenung dia pun menemukan cara yang mungkin memiliki persentase besar untuk berhasil. Pagi hari Rangga bersemangat dan berwajah cerah untuk mengikuti kuliah dihari Rabu itu. Pulang kuliah Rangga mencoba menghampiri Dira. Dira menuruni tangga, Rangga segera mengejar. “ Dira tunggu sebentar!” Dira yang mendengar panggilan itu, tidak menoleh sedikit pun karena dia sudah kenal suara lembut itu. Entah apa yang difikirkan oleh Dira, sebenarnya hatinya bergolak antara menoleh atau tidak atas panggilan itu. “Buat apa lagi kamu mencari aku, aku sudah bukan siapa-siapa kamu lagi lagi kan?” “Dira .. Dira dengerin aku dulu, kamu salah..aku tidak ingin kamu jauh dariku, aku mau kamu tetap menjadi sahabatku dari kecil kita bersama-sama, susah dan senang kita lewati bersama, apa hanya dengan hal semacam ini kamu ingin mengakhiri persahabatan kita?”

Dira sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu,tapi hatinya sakit karena kerinduannya kepada sosok sahabat yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya, tidak terobati karena sahabat itu bagaikan ditelan bumi. Hidupnya terasa hampa, karena Rangga lah yang selama ini mkembesarkan hatinya. Membuang semua pandangan negatif atas masa depannya. Memberi energi positif kepada hatinya yang rapuh. Hingga burung Merpati yang lemah berubah menjadi burung Elang yang kuat dan siap mengahadapi hidup yang penuh tantangan. Hati Dira, luluh akan kelembutan suara Rangga, dan apa yang telah dikatakannya. “Aku mau kamu ikut aku kesuatu tempat yang mungkin bisa mengingatkan kamu tentang masa kecil kita dulu”. Hari itu kuliah diliburkan karena ada suatu kepentingan. Rangga menganggap hari itu adalah hari yang paling cocok. Pagi-pagi Rangga bangun dan mempersiapkan diri untuk menjemput Dira, lalu mengajaknya pergi. “Hari ini cocok sekali untuk rencanaku”. “ Rangga pagi ini kamu mau pergi kemana?kuliah kamu libur kan?” “Iya ma,tapi Rangga mau pergi kesebuah tempat yang memiliki kenangan yang tak kan terlupakan”. “Kamu sendirian?” “Gak ma, nanti aku jemput Dira dulu”. “ Dira siapa?” “ Dira anak teman mama dulu, masa mama lupa?” “O yang itu,gimana sekarang?kakinya sudah sembuh?” “Belum ma, aku merasa bersalah selama ini..aku ingin menebus kesalahanku”. “Apa dia masih marah sama kamu?” “Masih, tapi kemarin aku bujuk dia,akhirnya dia mau menerima permohonan maafku”. “Syukurlah kalau begitu,lebih baik kamu segera berangkat nanti dia menunggu lama”. “Pa, aku pake mobil papa ya”. “Boleh,ini kuncinya, mana kunci mobil kamu?” Rangga memberikan kunci mobil yang ada ditangannya dan bergegas pergi. Dira bersiap-siap menanti kedatangan Rangga dengan berdandan, sambil mengamati parasnya yang lembut serta matanya yang sayu. Make-upnya sangat tipis namun wajahnya telah tergores sebuah garis kecantikan. Disibaknya baju-bajunya yang tergantung didalam almari,belum juga ada yang cocok dengan suasana hatinya yang tengah terombang-ambing ditengah lautan rasa. Berat hatinya memilih antara cinta dan sahabat. Ingin dia pertahankan keduanya namun bisa saja takdir berkata lain untuk hidupnya. Mama Dira masuk kekamar dan melihat anaknya kebingungan memilih baju yang akan dipakainya. Tangan lembutnya ikut menyibak-nyibak sederetan baju yang tergantung. Tak lama mama Dira mengangkat satu gaun yang anggun dan dihiasi renda-renda berwarna putih. ”Kamu pasti sangat anggun mengenakan gaun yang juga anggun ini”. Dira hanya tersenyum, senyum yang dipaksakan karena gejolak dalam hatinya melarangnya untuk tersenyum. Sekian tahun lamanya senyumitu seakan menghilang dari hidupnya. Mamanya keluar dari kamar Dira untuk duduk-duduk diruang keluarga dan memainkan tombol remote tv yang ada didepannya. ”Ting tung saatnya anda keluar dan melihat siapa tamu yang datang”. (Mungkin anda akan bertanya-tanya suara apa itu?) ”Bibi, tolong bukakan pintu depan!”. Bi Inah segera menuju pintu depan dan menarik gagang pintu. Saat pintu terkuak, tampaklah seekor (eh maaf seorang maksudnya) cowok tinggi, tampan, dan putih sedang berdiri diambang pintu. ”Bi, Diranya ada?” ”Ada mas sebentar saya panggilkan, non Dira masih ada dikamar”. ”Siapa bi yang datang?” ”Temennya non Dira bu”. ”Suruh masuk!” ”Iya bu”. ” Dira, teman kamu sudah datang cepat turun!” ”Iya ma”. Reka masuk dan menghampiri mama Dira. ”Selamat pagi tante, apa kabar?” (dengan nada sok kenal). ”Kamu siapa ya? sepertinya tante pernah bertemu dengan kamu”. ”Saya Rangga tante,teman masa kecilnya Dira”. ” Rangga Arditama Putra,putra jeng Dewi?” ”Iya tante”. ”Wah kamu sekarang lebih tampan”. ”Tante,saya minta izin untuk mengajak Dira jalan-jalan kesuatu tempat,bolehkan tante?” ”Boleh saja asalkan kamu mau menjaga Dira dengan baik. Tante tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali”. ”Baik tante saya akan menjaga Dira sebaik-baiknya”. Tok tok sepatu Dira beradu dengan tangga. Dira sangatlah anggun dengan balutan gaun putih yang terurai hingga kelututnya. Satu yang belum sempurna untuk penampilannya hari itu yaitu kakinya. Rangga menyambut tangan Dira dan menggandengnya dengan hangat menuju kemobil. Rangga membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Dira masuk. ”Terima kasih”.

Ditengah perjalanan, Dira hanya memandangi pemandangan dikanan kiri jalan. Namun fikirannya melayang jauh. Tak lama mobil pun berhenti disuatu tempat yang tak asing lagi bagi Dira. Ya tempat dimana semua penderitaanya dimulai. Ditempat yang menyebabkan kakinya tak berfungsi sebagai mana layaknya. Hatinya bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan oleh Rangga. ”Kenapa kamu membawaku ketempat ini?apa kesedihanku selama ini belum cukup membuatmu puas sehingga kamu ingin membebani pikiranku dengan membawaku ketempat ini?” ”Jadi kamu masih ingat dengan tempat ini?” ”Tentu saja aku ingat,tempat ini yang telah membuat kehidupanku berubah hampir total”. ”Apa kamu masih ingat tentang apa yang kita lakukan disini selain hal yang pahit itu?” ”Tentu, tentu aku masih ingat semuanya”. ”Aku ingin kamu memfokuskan dirimu dan mengembalikan memory yang dulu tersimpan difikiranmu!” Dira diam, matanya terpejam dan wajahnya tampak tenang setenang aliran air disungai, kesejukan alam menggiring angannya kembali damai dan menghilangkan masalah hidupnya. Perlahan, sirat-sirat memori diotaknya muncul dan bibirnya mulai mengembang. Rangga merasa sangat puas karena dia telah berhasil atas usahanya ini. ”Apa kamu ingin semua ini hancur dan hanya menjadi kengan yang fana?” Dira membuka matanya dan menggelengkan kepalanya. ”Jadi kamu mau memaafkan aku kan?” Dira menganggukkan kepalanya. Rangga mendekat dan memeluk Dira. Air mata meleleh membasahi pipi mereka. Dira merasa kehangatan yang telah hilang darinya, kini kembali lagi dan tentram dihatinya mulai mengepakkan sayapnya. Setelah mereka puas memandangi sekeliling dan dataran hijau yang terhampar,mereka memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu,”berjanjilah padaku setelah ini kamu harus mau mengikuti terapi,kamu tidak perlu memikirkan biaya. Aku yang akan mengurus semuanya,aku ingin kamu tersenyum seperti dulu”. Rangga berjalan dibelakang Dira. Tiba-tiba kaki Dira tersandung,dengan cepat Rangga menarik tangan Dira, mereka bertemu pandang. Jantung keduanya tersirap, darah mengalir begitu cepat keubun-ubun. Tak sadar mereka tetap pada posisi itu karena kejadian yang begitu tiba-tiba. Setelah sadar mereka pun menjauh dan segera menuju mobil untuk pulang. Sore yang cerah mengiringi kepulangan mereka. Sirat jingga menarik mereka pada masa lalu. Rangga berseri-seri karena siasatnya berhasil. Hari-hari dilalui dengan cepat,ukiran kenangan kembali tergores. Hari-hari dilewati dengan sirat kebahagiaan dan garis kasih sayang yang menyambungkan Rangga dan Dira.dihati Rangga makin tumbuh rasa yang tidak pernah dirasakannya pada Dira. Saat-saat kebersamaannya dengan sang pacar pun terpotong karena Dira. Kecemburuan muncul dihati Sita, pacar Rangga. Sita tak pernah membuka perasaannya ini pada Rangga.

Siang itu begitu terik. Dikampus, Dira pergi kekantin untuk membeli makan siang,perutnya melilit menahan lapar. Dibagian pojok kantin duduk Sita dan teman satu gengnya. Sita Dira yang sedang memesan makanan. Lirikan Sita tajam. Setelah itu Sita kembali bergabung dalam obrolan teman-temannya. ”Lo liat cewek cacat itu!dia yang membuat perhatian Rangga sangat berkurang kepadaku. Kemarin aku gagal jalan gara-gara dia. Aku pengen bales semua perbuatannya,tapi gimana caranya?” Teman-teman Sita membisikkan sesuatu ditelinganya,setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak sampai mengundang perhatian seisi kantin. Makanan pesanan Dira telah siap,dia memilih tempat duduk yang dekat dengan tempat penjual. Sita kembali memesan satu gelas jus melon. Saat Sita kembali ketempat duduknya,dia berpura-pura jatuh didepan Dira. ”Aduh..gimana sih lo,udah tau ada orang jalan malah naruh kakinya disitu lagi”. Dira tentu saja kaget karena dia merasa tidak melakukan hal apapun. ”Memangnya salahku apa?” ”Pake ngeles lagi,lo kan udah sengaja buat gue jatuh”. Sita membentak-bentak Dira yang tidak tahu apa-apa. Dira merasa takut karena semua yang ada dikantin memperhatikan dia. Saat itu Rangga sedang larut dalam permainan basketnya,dia bermain dilapangan yang berada tak jauh dari kantin. Rangga mendengar keributan dikantin,dia kekantin untuk mengecek apa yang terjadi. ”Sita apa yangt kamu lakukan?” Sita kaget karena suara Rangga yang biasanya lembut berubah menjadi kasar. ”Dia sudah membuat aku jatuh dan minumanku tumpah,dia sengaja melakukan itu,dia pasti mengira aku yang telah menjauhkan kamu darinya”. ”Ah sudahlah itu Cuma alasan kamu saja,pasti kamu sudah merencanakan semua ini, aku tahu bagaimana sikapmu yang sebenarnya”. ”Rangga, Dira itu jahat dia menaruh kakinya disini sampai aku jatuh,dia ingin balas dendam”. ”Ow benarkah begitu?tapi mana buktinya?kalian …kalian pasti tahu apa yang Sita rencanakan”. Tangannya menunjuk kearah teman-teman Sita yang duduk berkumpul di meja yang digunakannya makan tadi. Teman-teman Sita tertunduk, karena merekalah yang telah memberikan ide itu. ”Kenapa kamu malah menyalahkan mereka,mereka tidak salah..yang salah Dira”. ”Bulshit, aku tau siapa kamu sebenarnya”. ”Rangga, kamu sudah gak cinta dan sayang lagi sama aku,kamu malah lebih memilih cewek cacat seperti dia”. ”Plak”, Rangga menampar cewek yang berteriak-teriak didepannya. ”Diam, lo gak tau siapa Dira sebenarnya, jadi gak usah bawa-bawa dia..ini urusan kita berdua”. Rangga menarik tangan Dira dan mengajaknya pergi dari tempat itu. ”Dira,sebaiknya kamu jangan sampai berurusan dengan Sita, kamu belum tahu siapa Sita yang asli, kakak-kakak senior pasti semua sudah tahu siapa Sita”. Dira hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Rangga. ”Selama ini aku sudah bersabar menghadapi perilakunya yang tanpa batasan itu,tapi kamu tidak apa-apa kan?” ”Tidak apa-apa,tadi aku hanya..”. ”udah jangan bicarain dia lagi,bikin puyeng aja”. Tanda masuk berbunyi Rangga dan Dira berpisah. Pulang kuliah Reka mengantar Dira pulang karena hari itu Dira tidak membawa mobilnya,maklum mobilnya lagi rewel minta dibawa kerumah sakit (bengkel).

”Gimana kuliahnya tadi,menyenangkan atau membosankan?” ”Biasa aja sih,gak ada yang menarik”. ”Tiba-tiba Rangga memegangi perutnya,wajahnya mengekspresikan kesakitan. ”Rangga,kamu kenapa?kamu baik-baik aja kan?” ”Eh gak apa-apa kok”. Namun rasa sakitnya semakin hebat. Kedua tangannya memegangi perutnya, Dira segera mengambil alih kemudi. Mereka bertukar tempat. Rangga terbatuk dan muntah darah. ”Rangga lihat tanganmu”. Rangga melihat tangannya yang yang belepotan darah dan segera mengambil tisu yang tergulung didepannya. Dira panik dan langsung tancap gas. Daun-daun kering beterbangan saat mobil Rangga lewat. Diperempatan jalan, Dira dengan cepat menginjak rem. Beberapa saat lampu pun kembali hijau, Dira tancap gas dan mempercepat laju mobilnya. Mobilnya masuk ke pelataran rumah sakit. Dira menggantungkan tangan Rangga dipundaknya. Tangan Rangga yang satunya masih sibuk memegangi perutnya. Mereka segera berjalan menuju keruang UGD, dia berpapasan dengan suster. Suster itu langsung membaringkan Rangga dikasur dorong dan membawa keruang UGD. Dokter segera memberikan pertolongan kepada Rangga. Dira mondar-mandir didepan ruang yang tertutup rapat itu,tanpa tahu bagaimana keadaan Rangga sekarang. Saking cemasnya Dira tidak memberi tahu kepada orang tua Rangga. ”Apakah anda keluarga dari pasien?” ”Ya, dokter, bagaimana keadaan Rangga?” ”Sebaiknya anda ikut keruangan saya,nanti saya akan menjelaskan disana”.Dira mengikuti dokter, dokter membukakan pintu untuk Dira. ”Silahkan duduk”. ”Bagaimana dokter?” ”Pasien punya penyakit maag yang cukup parah. Kemungkunan besar disebabkan karena pola makan yang tidak teratur. Bila telah parah akan terjadi pendarahan pada lambung. Dan penderita juga bisa mengalami muntah darah”, jelas dokter panjang lebar. ”Penyakit ini akan membuat rasa sakit yang hebat dilambung”. Dira kaget saat mendengar hal itu. Karena Rangga tak pernah cerita padanya. ”Ya Allah Rangga,aku gak nyangka kamu bisa menyembunyikan ini dariku”, gumam Dira. ”Terima kasih dok,saya permisi dulu”. ”Sebelumnya,tolong anda mengurusi biaya administrasinya dulu”. Dira meninggalkan ruang dokter dengan wajah yang lesu. ”Rangga,kamu tidak pernah cerita sama aku, tidak kah kamu tahu bagaimana perasaanku padamu?” sebuah pertanyaan yang mungkin tak akan bisa dijawab oleh Rangga. Dira menatap Rangga lekat-lekat,tak ada satu bagian wajahnya yang terlewatkan. Rangga masih terlelap karena pengaruh obat yang disuntikkan ketubuhnya.

Hingga jam sembilan malam, Rangga dan Dira belum juga pulang. Mama Rangga khawatir dengan Rangga, perasaannya tidak enak. ”Pa, sampai larut begini Rangga belum juga pulang”. ”Mungkin dia ada tugas atau keperluan mendadak dikampus,sudahlah ma, gak usah khawatir berlebihan begitu..Rangga kan anak laki-laki, dia pasti bisa jaga diri”. ”Tapi pa,mama kawatir sekali sama Rangga”. ”Ya mama telfon aja”. Mama Rangga mengambil gagang telepon dan memutar nomon telepon, kan telfonnya adalah telfon kuno. Hp Rangga berdering, terdengar nada dering dari ST 12 ”Putri iklan”. Dira segera meraih Hp Rangga yang ada dikantong celana Rangga. Langsung saja diangkatnya telfon itu tanpa melihat nama penelfon. ”Halo..”. ”Ini siapa ya,Rangga dimana?” ”Saya Dira teman Rangga,maaf ini siapa?” ”Ini mamanya Rangga, Rangganya ada dimana?” ”Rangga ada dirumah sakit batu tante”. ”O ya terima kasih, tunggu tante ya..tante menyusul kesana”. Mama Rangga bersiap-siap kerumah sakit, papa Rangga tidak ikut karena capek seharian bekerja. 10 menit berlalu, ketegangan dihati mama Rangga semakin memuncak saat dilangkahkan kakinya menuju kereceptionist, ditanyakan ruang dimana Rangga dirawat, ternyata diruang 123, mama Rangga langsung bergegas menuju kekamar itu. Diputar gagang pintu, dia pun masuk. ”Dira, anak tante kenapa? Sakit apa?” ”Rangga sebenarnya sakit maag biasa, tapi sudah parah karena selama Rangga hanya minum obat penghilang rasa sakit dan tak pernah memperiksakan diri kedokter”. ”Benarkah,selama ini Rangga tak pernah menceritakan ini semua pada tante, dan dia terlihat sehat-sehat saja”. Mama Rangga pun tak percaya atas semua ini. ”Dira …” Rangga perlahan menyebut nama Dira dan memegang tangannya. ”Aku tak mau disini, bawa aku pulang saja”. ”Tapi kamu masih butuh perawatan”, elak Dira. ”Gak,pokoknya aku gak mau disini”. Rangga beringsut dari tempat tidur dan berusaha untuk meninggalkan ruangan itu. Dira dan mama tidak mengerti mengapa Rangga bersikap seperti itu. Dihatinya, Rangga tidak mau kelihatan lemah didepan Dira. Karena dia sadar bahwa selama ini Dira sangat menggantungkan hidup padanya. ”Kamu antar Rangga pulang, tante akan mengurusi administrasi dan menebus obat”. ”Anak ibu sudah lama terkena penyakit maag dan tidak check up kedokter, sekarang maag nya sudah parah dan mengakibatkan pendarahan pada lambung, apabila penyakit maagnya kambuh, anak ibu bisa muntah darah”. ”Ya Allah Rangga”. ”Apabila terus dibiarkan lambungnya bisa rusak”. ”Lalu apa yang bisa kami lakukan dok?” ”Penyakit jenis ini hanya bisa ditangani dengan jalan selain operasi, anak ibu harus makan teratur dan dengan pola makan yang baik. Tidak boleh makan yang terlalu pedas atau masam. Nanti akan saya sediakan obat untuk menghilangkan rasa sakit sementara”. ”Terima kasih dok”. Dira merangkul pinggang Rangga dari belakang dan menuntunnya menuju mobil. ”Kamu mau mengantarku pulang? Lebih baik aku yang mengantar kamu pulang. Aku bisa mengendarai sendiri”. ”Tapi..kamu kan, ya udah tapi sekarang aku traktir kamu makan dulu, nanti kambuh lagi, dari tadi siang kamu belum makan”. ”Oke dech”.

Mobil-mobil pun berjalan dikeremangan malam itu. Deru motor tua yang melintas sangat memekakkan telinga. Asap dan debu berhamburan disapu ban mobil dan motor yang melintas. Langit tampak murung tanpa bintang-bintang yang bertengger disana. Bintang menghilang ditelan pekatnya awan yang menggumpal seperti puluhan biri-biri yang berbaris. Bulan pulang keperaduannya (mungkin kedinginan karena malam yang menusuk). Dipojok kanan jalan terdapat restoran sederhana, restoran yang khusus menyediakan makanan asal padang yang terkenal pedas. Dira sendiri tahu selera makan Rangga. ”Ayo makan disini saja, sepertinya sedap”. Rangga mengangkat jempol kanannya. Dira hanya tersenyum. Dimalam itu restoran nampak sepi, hanya lalu lalang pelayan membereskan meja-meja yang berantakan. Ada salah satu dari mereka yang mendatangi Dira dan Rangga,”mau pesan apa mas?” Tangannya memberikan menu yang disediakan. ”Aku pesan nasi padang, minumnya es jeruk ya!” ”Rangga,kamu gak boleh makan yang pedas-pedas dan minuman yang asem, kok pesennya yang itu?” ”Ah gak apa-apa, gak usah khawatir”. ”Kamu dibilangin gak nurut, awas ya ntar kalo perut kamu sakit lagi, aku gak tanggung jawab”. ”Oke tenang aja, pesen yang itu tadi ya mbak masing-masing 2”. pelayan itu masuk, selang beberapa menit pelayan itu keluar dan membawa pesanan mereka. ”Ini mas..mbak..silahkan dinikmati”. Rangga sudah tidak sabar, dia sangat rindu dengan cita rasa nasi padang yang sudah lama tidak dinikmatinya karena tak sempat untuk jalan-jalan beberapa bulan belakangan. Satu sendok, dua sendok nasi padang lengkap lauk pauknya mendarat digua bergigi Rangga, tak terjadi apa-apa. Namun setelah suapan ketiga wajah Rangga langsung berubah dan dia memegangi perutnya sambil mengerang kesakitan. ”Nah apa aku bilang,gak boleh ya gak boleh, sekarang sakit lagi kan? makanya jadi orang jangan bandel aja dibilangin”. Dira jadi bete sama Rangga. ”Gini deh akibatnya”. Rangga tetap kesakitan, akhirnya Dira tak tega melihat Rangga. Segera dia belari ketoko seberang jalan dan membeli obat maag. Rangga segera meminum obatnya setelah Dira kembali. Sakitnya sudah berkurang. Dira kembali memesan makan untuk Rangga dengan menu lain. ”Makanya, kalo dibilangin nurut, jangan sesuka kamu aja, mulai sekarang kamu gak boleh makan yang pedas dan asem, satu lagi kamu harus makan yang teratur”. Rangga hanya tersenyum kecut. Dia sudah gak bisa lagi menikmati makanan favoritnya (itu derita loe). Untuk sementara Rangga diharuskan istirahat total.

Hari itu Dira berangkat kuliah agak kesiangan, beruntung pagar gerbang kampus belum dikunci. Tidak ada yang istimewa pada hari itu, apalagi Rangga tidak masuk kuliah. Biasanya setiap istirahat mereka berdua pergi kelapangan. Rangga bermain basket bersama teman-temannya dan Dira mengamati dari jauh. ”Dira..Rangga kemana?biasanya lo sama dia”. ”Hari ini dia gak masuk, sakit”. ”Emangnya sakit apa?” ”Sakit maag, cuma dah terlanjur parah”. ”O..gak usah sedih gitu”. ”Ah siapa yang sedih, sekarang dia istirahat dirumah, gak perlu rawat inap”. Sita mendengar pembicaraan antara Dira dan temannya. Siang itu terik membakar kuli, burung-burung bertengger dipohon yang rindang didekat pekarangan rumag Rangga sambil mengamati seorang cewek yang berjalan berlenggak-lenggok menuju kerumah Rangga. Berdiri tegap didepan pintu, memencet bel dan datang seorang pembantu berpakaian sederhana dan rambut digelung ala jawa. ”Bi..Rangganya ada nggak?” ”Ada non, lagi sakit”. ”Sekarang dia dimana?” ”Sedang dikamar istirahat, tapi kata mas Rangga gak boleh ada yang masuk kamarnya”. Sita tak peduli dan menerobos masuk. Perlahan dikuakkan pintu kamar Rangga. Di kamar, Rangga sedang sibuk mengetik tugasnya. Samar-samar didengarnya ada orang yang masuk kekamarnya. Dia menoleh dan matanya melotot menandakan tak setuju dengan apa yang Sita lakukan. ”Ngapain kamu masuk, aku sedang sibuk dan gak bisa diganggu, lebih baik sekarang kamu keluar!” ”Rangga, aku khawatir sama kamu, aku juga rindu sama kamu… sudah lama kita tidak bertemu”. ”Terserah, aku sibuk dan sedang gak mau diganggu, cepat pergi!” Bentak Rangga pada Sita yang masih berdiri diambang pintu. Sita sangat kecewa atas perlakuan Rangga padanya. Sita turun dan bergegas keluar dari rumah itu dengan muka masam. Papa Rangga baru saja memarkirkan mobil digarasi. ”Lo, Sita kamu kenapa kok cemberut begitu, cantiknya hilang lo”. Sita mendekat dan menceritakan perilaku Rangga padanya. ”Om..Rangga jahat banget sama aku”. ”Sebentar ya, yang bicara sama Rangga”. Dengan emosi, papa Rangga melangkah menuju ke kamar Rangga yang ada di atas, dibukanya pintu kamar Rangga dengan kasar dan membuat Rangga kaget. ”Rangga, kamu bagaimana sih, Sita sudah mau ke sini untuk menengok kamu, tapi kamu memperlakukan dia dengan kasar”. ”Pa, Rangga itu sedang sibuk dan gak bisa di ganggu”. ”Rangga”. Mata papa Rangga seakan-akan keluar dari relung matanya. Rangga hanya terdiam dan tak sanggup menatap seorang papa yang berdiri dihadapannya. Namun hatinya tak sanggup memendam kebencian pada papanya. ”Pa, pokoknya Rangga tidak setuju atas semua ini, dan sampai kapan pun papa memaksa Rangga itu percuma. Rangga sudah dewasa pa, Rangga tahu mana yang salah dan mana yang benar”. Watak Rangga yang keras memang tak jauh dari papanya, karena yang menurunkan sifat itu adalah papanya sendiri. Mereka berdua tidak akan mudah menemukan kata sepakat dalam menemukan sesuatu. Tak jarang, mama Rangga harus menjadi penengah antara mereka berdua. Satu hal yang membuat Rangga sangat benci pada papanya adalah keputusan yang diambil papanya dengan sebelah pihak. Papanya telah memeksanya untuk menikah dengan Sita tanpa tahu bagaimana sifat dan perilaku Sita yang sebenarnya. Pernah Rangga menangkap basah Sita saat dia mabuk dan mengatakan hal yang nglantur. Seakan papanya menutup mata dan hatinya dari realita yang ada. Tetap didukungnya permintaan rekannya yang mengajak untuk berbesan, yaitu papa Sita. Dengan alasan untuk mempertahankan warisan antar ke 2 keluarga agar tidak jatuh ketangan orang lain yang tak sederajat. Dampak terbesar dari semua ini adalah putusnya hubungan antara Rangga dengan Dira dalam waktu yang cukup lama.

Sita mengendarai mobilnya dengan sangat emosi, bayangan Rangga jelas tergambar di benaknya, dia tidak sadar akan apa yang di perbuatnya dan yang menyebabkan Rangga sangat membencinya. Hujan yang turun tak menghalangi laju kencang mobilnya menembus tirai hujan yang menyelimuti jalanan. Ban mobil bergesekan dengan jalan raya yang licin itu. Ditikungan, mobil Sita kehilangan cengkeraman dengan aspal. Tergelincir dan menabrak pohon yang tertancap kuat dipinggir jalanan. Asap mengepul dari jok depan mobil. Tak terdengar lagi nafas kehidupan disekitar tempat itu, hanya kicauan burung mengiringi desahan terakhir nafas kehidupan. Berakhir sudah beban batin yang harus ditanggung oleh Rangga. Berita kecelakaan itu disebarkan oleh angin dengan begitu kencangnya. Perasaan lega menghinggapi hati Rangga, berkuranglah penyebab perdebatannya dengan sang papa.

Sang bulan terbangun dari tidur panjangnya. Dingin yang menerpa membuat suasana semakin nyaman, duduklah Dira,Rangga dan Jeri ditempat biasa. Ya, tempat satu-satunya yang memiliki kenangan indah dimana terukirnya masa-masa bahagia Dira bersama dua cowok yang senantiasa mendampingi dan menjaga Dira apapun yang terjadi. Matanya berbinar mamancarkan terpaan cahaya bulan. Mereka bertiga terlibat dalam obrolan yang menghanyutkan diselingi canda tawa.

Mentari bersinar selalu, menyinari jutaan nafas yang menginginkan suatu yang berbeda. Kekuatan yang selalu dipancarkan memberi semangat besar untuk kelanjutan hidup manusia. Itu perumpamaan bagi Rangga dan Jeri. Hari itu, mereka berdua menjalankan rencana yang telah disusun. Dira diantarkan ketempat terapi untuk kakinya. Terapi sudah dijalankan dalam beberapa bulan, namun belum terjadi perubahan. Dira mulai putus asa. Rangga setia mendampingi Dira saat terapi dan terus menumbuhkan rasa ingin untuk bisa berjalan kembali. Bulan kedua dan ketiga, Dira mulai menampakkan kemajuan yang pesat. Ini semua karena bantuan dan semangat dari Rangga. ”Kamu harus selalu ingat Dira, apapun usaha yang kamu lakukan, suatu saat kamu pasti akan memetik buah dari usahamu itu. Jadi, janganlah kamu mudah putus asa. Itu yang selalu diucapkan Rangga saat Dira mulai menyerah. Dan kalimat itu tertancap kuat dimemorinya. Namun semua itu memudar saat terciptanya sebuah konflik yang merubah jalan hidupnya.

Hari itu begitu biasa, dan seperti biasa pula awan-awan beriringan, beterbangan ditiup angin hingga kembali kelaut. Namun mentari tak mau kembali keasalnya. Angin berhembus menyapu daun-daun kering yang bertebaran. Dengan langakah biasa Dira berjalan-jalan disekitar pekarangan rumahnya, dia larut dalam kebahagiaan yang selalu mewarnai hidupnya hingga dia tidak sadar akan keadaan disekitarnya, hampir dia terserempet mobil namun ada seorang cowok yang menolongnya. Dia menabrak Dira dan keduanya jatuh terjerembab keatas rumput-rumput yang menghijau dipinggir jalan. ”Terima kasih”. Hanya 2 patah kata yang mampu terucap dari bibir merahnya. ”Sama-sama, namaku Vandi, kamu? ” ”Aku Dira”. Nama yang setampan pemiliknya. Tak sadar Dira mengikuti garis wajah cowok itu dari atas sampai bawah. Cowok itu merasa ada getaran yang tepat mengenai hatinya. Bahkan terlalu tepat, hingga kemampuannya untuk bicara hilang sudah. Matanya tak berkedip sedikit pun. Hingga cewek didepannya hilang dari hadapannya.

Pertemuan itu mengawali kisah yang akan membuat hidup Dira lebih berarti. Kasih sayang yang diberikan oleh Vandi lebih dari apa yang diharapkannya selama ini. Rangga tak pernah mewujudkan kasih sayang atas cintanya kepada Dira, karena dia menghargai apa yang telah mereka bertiga jaga selama ini. Namun hal ini sangatlah berbanding terbalik dengan Vandi. Semua kasih sayang tercurah pada Dira, rasa cintanya dengan perhatian besar dari hatinya. Dira mulai merasakan perbandingan itu. “Dira, apakah kamu mau menjadi pacarku?” Vandi dengan bersungguh-sungguh. Satu kata yang terngiang-ngiang ditelinganya. Diamatinya gelembung-gelembung air yang muncul dari tetesan air hujan yang tertampung dalam kolam ikan depan rumahnya. Terkoyak olehcurahan es yang meleleh dari awan. Seperti hatinya yang terombang-ambing didalam satu rasa. Ya cinta..apalagi yang dapat membuat patah hati kita. Membuat kita sulit makan, sulit tidur dan sulit melakukan hal-hal lain juga (kecuali BAB, kalo dah kebelet kluarin aja). Sekarang muncul perdebatan pada relung hatinya. Siapa yang mnjadi pilihannya. Apakah Rangga yang selalu menjadi malaikat pelindung hatinya? Ataukah Vandi yang menjadi malaikat pelindung fisik dan hatinya. Samar-samar terbentuk bayangan 2 cowok yang telah lama dikenalnya. Vandi, cowok pemberani yang selalu melindunginya saat dia diganggu oleh preman-preman pasaran ataukah Rangga yang selama ini telah menjadi sahabatnya, sungguh sebuah pilihan yang berat. Tapi dia sadar, selama ini Rangga tak menunjukkan gejala-gejala fallin in love padanya.

Dia masih ingat sewaktu dia dan Rangga dalam perjalanan pulang dari rumah sakit karena penyakit Rangga kambuh. Mereka dicegat oleh kawanan preman yang menginginkan harta mereka. Rangga yang baru dari rumah sakit tidak bisa menjaga dirinya dan Dira karena tubuhnya yang masih lemah. Para reman menodongkan pisau kearah keduanya yang terlihat ketakutan. Tiba-tiba Vandi datang dan melawan para anak buah dari preman itu. Namun bos dari mereka tidak terima dan menusukkan pisau ketubuh Vandi. Vandi yang bersimbah darah terkapar tak berdaya dijalan raya. Dira segera bertindak. “Tolong..tolong..”. para preman itu langsung kabur saat banyak orang datang untuk menolong. “Pak, tolong masukkan ke mobil”. Vandi dibawa kerumah sakit. Dira mndar-mandir menuggu didepan ruang UGD. Terdengar derap langkah kaki dari dalam ruang UGD. Dira segera mencegat. “Bagaimana keadaan Vandi dok?” “Dia kehilangan banyak darah dan kita harus mencari pendonor yang golongan darahnya cocok dengan pasien, sebenarnya kami menyediakan, tapi sayang sekali pasokan darah sedang kosong”. “Golongan darahnya apa dok?” “Golongan darahnya A”. “Baiklah dok, akan saya usahakan untuk mencari yang cocok”.

Bunga bermekaran tampak segar nan elok, sedap dipandang mata. Duduklah disebuah bangku, seorang cowok berambut hitam legam dengan poni. Dibalut kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan paduan jeans hitam. Menanti kedatangan pujaan hatinya. Dia telah menunggu lama. Datanglah Dira menggenggam jawaban atas pertanyaan yang terlontar dengan suara lembut nan gagah. Dalam diam mereka saling melempar pandang. Diulangi sekali lagi pertanyaan itu. Merenung, Dira menatap deretan bunga. “Ya, aku mau jadi pacar kamu”. Sebuah keputusan yang mungkin bukan dari lubuk hatinya yang terdalam. Dia tidak ingin mengecewakan hati orang yang selama ini telah tulus memberikan perhatian ekstra padanya. Dia ingat betul bahwa tali persahabatan telah menjerat Dira dan Rangga untuk tidak menjalin hubungan lain. Waktu kini telah berputar, kini pilihannya mengubah alur kehidupannya bersama dengan Rangga. Sosok Rangga telah tergantikan oleh Vandi. Vandi lebih sering menghabiskan waktunya bersama Dira. Sudah terkuras habis waktu Dira untuk Rangga. Lama, Rangga baru menyadari bahwa perasaan itu adalah perasaan cinta yang telah sedikit demi sedikit tumbuh pada hatinya. Namun segera dia teringat kembali atas janji yang telah mereka ucapkan saat SMP dulu. “Kita berjanji untuk menjaga persahabatan ini agar tetap langgeng, dan bagi siapa yang mengkhianati, biarlah alam yang akan menghukum”. Namun jerat kecemburuan pada hati Rangga muncul manakala dia melihat keakraban dan kemesraan yang tercipta pada diri Dira dan Vandi. Dipendam dan dipendamnya dalam-dalam agar tidak meledak kedalam nyata. Semangat hidupnya surut dan semakin terpuruk. Dira sendiri tak mengerti dengan Rangga.

Malam yang muram, tanpa bintang mau menemani. Duduklah kembali Rangga dan Dira ditempat yang sudah tak asing lagi. Sebelumnya Rangga mengajak Dira dengan alasan ingin memberikan kejutan pada Dira. “Rangga selama disini aku terus mengamatimu, kenapa tubuhmu semakin kurus dan pucat”? “Tidak apa-apa”. “Lalu apa kejutan yang engkau janjikan?” “Ini”. Tangannya mengambil sesuatu yang empuk, punya empat kaki, kulitnya licin seperti lendir. Ukurannya segenggaman tangan. Dia meyodorkan benda itu dan menaruhnya ditangan Dira. Sontak Dira kaget dan membuangnya. “Apa ini?” “Kodok ha ha ha”. Tawa Rangga menggelegar, tawa keduanya meledak. Dira bergidik. “Apa sebenarnya tujuan kamu mengajakku kesini untuk kesekian kalinya?” “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu”. “Apa?” “Aku ingin menanyakan sesuatu yang mungkin tidak berharga bagimu”. “Apa? Aku ingin dengar dulu mungkin berharga bagiku setelah aku mendengarnya”. “Selama ni aku telah menghabiskan waktuku untuk menemanimu dalam kehidupan yang selalu berputar ini, tapi seandainya aku tiada nanti, kamu harus tetap menjadi Dira yang kukenal sekarang ini, jangan kamu menangisi kepergianku karena aku tidak akan senang dialam sana”. “Kamu gak boleh ngomong seperti itu, kamu sudah berjanji akan menemaniku sampai akhir hayatku”. “Tapi setiap manusia tidak bisa menolak takdirnya”. “Memang, tapi setiap manusia juga bisa merubah takdirnya kan?” Dira merenung beberapa saat. “Aku tidak bisa menerima kenyataan untuk hidup tanpa dirimu”. Rangga hanya terdiam. “Berusahalah”. Dira memandangi Rangga dengan tatapan yang mengandung tanda tanya besar. Mereka berdua terpaku dalam diam, namun pikiran melayang entah kemana. Entahlah, mungkin melayang mencari dimana bintang berada. Rangga memegangi perutnya melilit dan semakin sakit rasanya. Rangga tidak bisa menahan lagi, tiba-tiba gelap menggerayangi tubuhnya. Dira terkejut karena tubuh Rangga ambruk, segera Dira menahannya. Rangga kembali masuk rumah sakit karena pendarahan pada lambungnya semakin hebat. Rangga kritis. Kedua orang tuanya sangatlah khawatir, begitu juga Dira. Dikamar itu, Rangga terbaring dan tak mampu mengamati keadaan sekelilingnya bahkan untuk membuka matanya ia sudah tak sanggup. Bibirnya memucat, tubuhnya semakin kurus dan tersirat hitam dilengkung matanya. Diam…dingin mencekam. Denyut demi denyut nadi, detak demi detak jantung terdengar. Bulir-bulir air mata tak terbendung lagi dipelupuk mata Dira. Suram sangat suram, ketegangan menghiasi wajah ayu Dira. Tiba-tiba detak jantung melemah dan hilang, nafas terakhir berhembus. Hilang sudah semua, cinta, hasrat yang belum teraih. Dira tak sanggup menjalani kenyataan..gelap..ya gelap..cahaya redup… dan hilang.

Bulan berikutnya berjalan lambat, kehilangan seseorang yang berharga adalah mimpi buruk terbesar bagi Dira. Jeri mencoba untuk membangkitkan kembali semangat adiknya setelah lama terpuruk. Mereka terlibat pada suatu perbincangan. “Dira, kamu tidak bisa terus seperti ini, kamu harus bisa menerima kenyataan. Biarlah Rangga pergi dengan tenang”. “Tapi kak, ada sesuatu yang belum aku katakan padanya dan itu yang membuatku menyesal, sangat menyesal”. “Sudahlah, semua ini belum terlambat. Berubahlah raih masa depanmu. Ini bukan satu alasan untukmu kembali terpuruk seperti dahulu, berusahalah agar Rangga bangga padamu, kuliah dengan benar dan menyandang suatu predikat akan menyenangkan Rangga dialam sana”. Hanya ini yang bisa diperbuat Jeri untuk adiknya itu. Vandi juga tidak pernah absen dalam memberi semangat pada Dira. Hingga suatu sore, “non Dira, ini ada paket untuk non”. Diraihnya paket itu dengan tidak berhasrat.

“Dira, aku ingin mengungkapkan suatu hal yang tak pernah aku ungkapkan padamu. Aku tak tahu perasaan ini, aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Tak bisa hatiku mengartikan cinta, karena selama ini cinta hanya tersirat bukan tersurat. Aku tak tahu apakah rasa ini sama dihatimu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa cinta, sayang, perhatianku selama ini bukanlah tertuju pada seorang sahabat sejati. Namun tertuju pada seorang yang aku cinta. Aku harap, setelah kamu membaca surat ini kamu bisa mempertimbangkan satu pertanyaan yang aku berikan. Apa kamu mau menjadi pacarku? Dan menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupku?”

Rangga

1 Februari 2010

Deg.. hati Dira langsung berdebar, detak jantung semakin cepat dan tiba-tiba dia tak dapat mengenali lagi suara alam yang memanggilnya, cahaya bagaikan ditelan sang malam. Gelap..hanya gelap yang meraba. Meraja dalam mata indahnya. Diruangan yang pengap itu terdengar detak jantung yang mulai melemah. Suasana mencekap menyelimuti mereka semua. Tak lama terlihat garis lurus dilayar monitor pendeteksi detak jantung. Mama, papa, dan Vandi sangat terkejut. Butir air mata membanjiri ruangan itu. “Dira..” lantang Vandi berteriak. Dokter segera menyiapkan alat pacu jantung. Digesek-geseknya alat yang lebih mirip dengan setrika itu satu sama lain. Mulai dia menyentuhkan ketubuh Dira. “Dig..dug..dig…dug”.

Ditempat itu, ditengah-tengah padang ilalang. Sayup-sayup terlihat seorang cowok yang sudah sangat menyatu dihatinya. Rangga, betul Rangga. Dira mengedipkan mata untuk memastikan ini mimpi atau kenyataan. Disambutnya uluran tangan dingin Rangga. Dipeluk tubuhnya dengan erat, namun ada yang mengganjal dihatinya. Dingin, dingin sekali pelukan ini. Tidak seperti yang dia harapkan. Tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Beku terlihat dibibir Rangga. Rangga memucat dan semakin pucat. Dipandanginya mata yang dingin itu. Akhirnya keluar untaian kata. “Dira, kamu pasti bisa membaca apa isi hatiku selama ini. Aku ingin kamu menjadi pacarku, menjadi bagian dari hati dan jiwaku. Orang yang sangat berarti dalam hidupku. Tapi mungkin hal itu tidak akan terwujud karena satu batas yang tak pernah bisa kita tembus. Ada satu permintaanku, demi kebahagiaan dan kebaikanmu, aku ingin kamu tidak menyia-nyiakan orang yang telah memberi cintanya padamu. Vandi, jadikan dia sebagai penggantiku. Jangan pernah lepaskan dia sampai akhir hidupmu”. Setelah itu Rangga diterpa cahaya yang semakin terang dan terang. Hingga Dira tak mampu lagi mengenali sosok yang ada didepannya. Setelah itu gelap menyelimuti. Tangan Dira mulai bergerak dan matanya yang terkatup mulai terbuka. Guratan-guratan pucat nampak jelas diwajahnya. Genggaman tangan terasa hangat ditanganya. Dipandanginya ruangan itu. Didapatinya Vandi yang nampak kelelahan disamping ranjangnya. Air mata yang mengering membekas dipipi Vandi. “Dira, Dira kamu bangun..Alhamdulillah ini suatu keajaiban dari tuhan, terima kasih tuhan engkau telah mengembalikan seseorang yang berharga bagiku”. “Vandi, aku mau engkau menjadi pengganti Rangga dihatiku. Ini adalah amanah dari Rangga sendiri dan juga bisikan dari hatiku yang terdalam”. Semburat kebahagiaan memenuhi ruangan pengap itu. Vandi dan Dira saling memeluk dan menumpahkan semua gejolak bahagia yang terpendam dihati mereka. Kehidupan Dira mulai berwarna dan berubah. Namun lambat laun Dira mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang ada di diri Vandi yang sangat mirip dengan Rangga. Sepertinya jiwa Rangga sudah kembali dan merasuki raga Vandi. Dira pun tak kehilangan sosok sahabat dan cinta sejatinya.

Posted by: dianrahma | 20 Januari 2010

logo

xi-ia3_dian-rahmatikaLogo ini bermakna tentang kesukaanku pada idolaku.Aku memakai logo ini karena logo ini menggambarkan sebuah kekaguman pada seorang idola.

Posted by: dianrahma | 15 Nopember 2009

HISTERIA dalam KTS 1

fly-baloons-1

Kemarin diSMAN 1 Pare diadakan sebuah kegiatan yang sangat bermanfaat dan patut untuk diikuti yaitu KTS 1 tahun pelajaran 2009/2010.Dalam KTS ini diadakan berbagai kegiatan yang tentunya mengasyikkan dan menghilangkan rasa pusing dan capek setelah melalui UTS 1.

Dalam KTS tanggalkemarin ada satu kelas yang sangat heboh dan kompak yaitu kelas XII IA 3,kelas ini dihuni oleh anak-anak yang kreatif dan terampil dalam membuat kekompakan kelas,salah satunya dalam hal berpakaian.Semua warga IA 3 mengenakan atasan warna merah dengan bawahan warna ungu.Perpaduan dua warna ini membuat ramai suasana.

Tidak hanya itu saja,mereka juga membawa alat pengeras suara dan membawa spanduk bertuliskan”HISTERIA POJOK TAPI JOSH”,yang menandakan lokasi kelas mereka yang memang berada paling pojok.Mereka juga menyebutkan bahwa kelas mereka paling lengkap fasilitasnya yaitu”kantin,tempat parkir,dan kamar mandi”yang memang ketiga-tiganya jaraknya dekat dengan kelas IA 3.Kelas yang sangat membanggakan warna merah ini sangatlah kompak dalam menyanyikan lagu kebangsaan mereka,hal ini membuktikan bahwa mereka telah bersatu dan menjadi keluarga.

Tak lupa mereka foto bersama untuk mengabadikan moment yang berharga ini.Warga Histeria tidak hanya pandai dalam mata pelajaran juga pandai dalam berpose,lihat saja tingkah mereka.KTS tanggal 14 adalah Festival Band(FestBand),tak ketinggalan Histeria juga menampilkan Band yang beranggotakan yaitu:Wishnu Bayu,Yohanes,Refa,dan Laili,para penonton sangat antusias saat Histeria Band menyanyikan lagu “Sahabat Jadi Cinta” dari Zigas.Para penonton tidak sungkan untuk ikut menyanyi dan bertepuk tangan untuk mengiringi lagu itu sampai selesai.Histeria Band juga masuk dalam kategori Band yang paling diminati saat festival kemarin.Sampai disini dulu ya cerita tentang warga Histeria kalau diceritain semua gak bakalan habis deh.

Posted by: dianrahma | 5 September 2009

LIRIC

<!– @page { margin: 20mm } P { margin-bottom: 2.12mm } –>

YOU ARE NOT ALONE

Another day has gone
I’m still all alone
How could this be
You’re not here with me
You never said goodbye
Someone tell me why
Did you have to go
And leave my world so cold
@Everyday I sit and ask myself
How did love slip away
Something whispers in my ear and says
That you are not alone
# For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
You are not alone
I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart
You are not alone
All alone
Why, oh
Just the other night
I thought I heard you cry
Asking me to come
And hold you in my arms
I can hear your prayers
Your burdens I will bear
But first I need your hand
So forever can begin
back to @#
Whisper three words and I’ll come runnin’
And girl you know that I’ll be there
I’ll be there
You are not alone
I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
You are not alone
I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart 2x

Posted by: dianrahma | 27 April 2009

KOTA KEDIRI

Kota kediri adalah kota yang terkenal dengan sebutan kota tahu karena banyak orang yang memproduksi tahu.Kota tahu terkenal dengan bernagai jajanan tradisional seperti gethuk pisang,segala macam olahan dari bekicot,tahu kuning,emping mlinjo dan masih banyak lagi.selain itu juga banyak tempat-tempat hiburandan pariwisata seperti ubalan,pagora,tirtayasa,tempat pemandian tirta ria,gua selomangleng digunung klotok dan lain-lain.Tempat perbelanjaan / swalayan Sri ratu,disana kita dapat menemukan semua kebutuhan kita dari kebutuhan pokok,jajanan sampai kebutuhan barang-barang,tapi jangan heran karena disana harga barang-barang cukup merogoh kocek yang dalam.Terdapat juga suatu monumen yang selesai dibangun pada tahun ini.Cabang-cabang supermarket alfamart dan indomaret.Salah satu kota yang memiliki persatuan sepak bola yaitu persik yang telah terkenal dan lapangan brawijaya

Posted by: dianrahma | 27 April 2009

EKSTRA YANG DIADAKAN OLEH SMAN 1PARE

Menurut saya ekstra-ekstra yang diadakan oleh SMAN 1 PARE sangatlah membantu para siswa untuk lebih mendalami pelajaran disekolah.Para siswa yang kesulitan untuk memahami pelajaran dikelas bersama teman-temanya sangat terbantu dengan adanya ekstra-ekstra yang diadakan oleh SMAN 1 PARE ini.Para guru dengan sabar membantu para murid untuk lebih memahami pelajaran yang mereka berikan.Ada juga ekstra kurikuler tari,ekstra kulikuler ini mengenalkan siswa bahwa indonesia memiliki budaya yang patut dan harus dilestarikan,tari salah satunya.Tarian adalah budaya yang unik dan menarik bahkan tiap daerah memiliki budaya tari yang berbeda.Para siswa bisa menunjukkan bakatnya dalam menari karena dalam menari dibutuhkan keluwesan,bakat,dan keinginan untuk bisa.Tnpa niat,seseorang tidak akan bisa melakukan sesuatu.

Posted by: dianrahma | 27 April 2009

ABOUTBLOG DETIK

BLOG DETIK
Menurut saya blog detik adalah suatu ajang yang cocok untuk mengembangkan kreativitas yang baik dan sangat berpengaruh bagi kemajuan teknologi diindonesia.Saat pertama saya mendengar kata Blog detik,saya sangat penasaran karena guru saya memberitahukanya dengan bahasa yang bagus agar semua murid bisa tertarik.Blog detik sangatlah memberi pengaruh positif bagi perkembangan otak anak agar lebih mudah untuk berkreasi tanpa batas namun tetap dalam hal yang wajar tanpa melanggar hukum tertentu.Anak bisa mengeluarkan imajinasi yang dimiliki.Bisa berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam hal pengembangan imajinasi dan kreatifitas.Blog detik hanya bisa dimanfaatkan oleh para pelajar dan situs ini tidak dipasar bebaskan dalam media teknologi komunikasi dan informasi.orang luar tidak bisa memanfaatkannya karena program ini hanya dikhususkan untuk anak sekolah.Sedemikianlah pendapatku tentang blog detik,apabila ada yang ingin menambahkan silahkan saja.

Posted by: dianrahma | 10 Februari 2009

ELEARNING SMAN 1 PARE

E-LEARNING yang disediakan oleh SMAN 1 PARE banyak sekali
memberikan bantuan bagi para siswa,E-LEARNING ini memberikan fasilitas
sangat disukai oleh semua siswa.Siswa diberi tugas-tugas yang diberikan melalui
E-LEARNING ini.Bahkan para siswa bisa menggunakan fasilitas chatting yang menyediakan suatu
kesan yang menyenangkan.
Di E-LEARNING ini saya bisa mengerjakan tugas-tugas dari guru diluar jam pelajaran
jadi kita bebas untuk mengerjakan dimana saja dan kapan saja.Tetapi kita juga harus bisa
menjaga kepercayaan yang diberikan guru kepada kita saat mengerjakan tugas yang mereka
berikan.
Chatting yang disediakan terbatas untuk alamat-alamat yang telah mendaftar
diE-LEARNING ini.Jadi menurut saya kita hanya bisa chatting dengan teman sekelas saja.
Wilayah E-LEARNING juga hanya terbatas disekolah saja jadi orang luar tidak bisa
menggunakan situs ini.Sekian pendapat yang bisa saya tuliskan,saya juga bangga bisa
sekolah diSMAN 1 PARE ini.

Posted by: dianrahma | 10 Februari 2009

TIK DI SMAN 1 PARE

Menurut saya pelajaran TIK di SMAN 1 PARE adalah pelajaran yang
sangatmenarik untuk diikuti.Disini saya bisa mengembangkan kreatifitas
untuk lebih memahami TIK lebih jauh lagi.Saya bisamendapatkan ilmu
yang lebih baik kualitasnya dari pada di sekolah lain.TIK yang
diajarkan disini ditujukan untuk memberikan pembelajaran yang lebih
mendalam dibidang komputer.
Kreatifitas para siswa sangat dibutuhkan,dan sangat dituntut
agar dapat mencapai kurikulum yang telah ditetapkan.Bahkan hampir
semua pelajaran juga disampaikan pada siswa melalui internet,yang
pastinya berhubungan sekali dengan komputer.
Bagi siswa yang tidak bisa mengembangkan kreatifitasnya,pasti
dia akan mendapat ilmu yang lebih sedikit dari pada siswa yang memiliki
kreatifitas yang tinggi.Bagi saya hal itu memanglah sangat berpengaruh
kesuksesan kita dimasa depan.Saya berharap agar saya sukses mengembangkan
semua kreatifitas yang saya miliki.Demikianlah pendapat saya mengenai
pelajaran TIK di SMAN 1 PARE

Categories